Kamis, 29 Desember 2016

Belajar dari Detoks Digital Selena Gomez

Belajar dari Detoks Digital Selena Gomez
Lirik lagu “online” milik Saykoji yang sempat hits di 2009 itu semacam cermin yang menampilkan masyarakat perkotaan yang begitu bergantung dengan gawainya. Sering kali, seseorang harus tidur bersebelahan dengan ponselnya. Ada yang berjalan kaki lebih lambat karena sibuk chatting. Sebagian lagi nekat berkendara sambil asyik dengan gadgetnya.

Semua perilaku tadi, dialami oleh mereka yang hidup dalam masyarakat serba digital. Namun, pernahkah Anda terpikir untuk mencoba seminggu saja menjauhkan diri dari segala perangkat digital? Sebagian mungkin akan menjawab tidak, karena pertimbangan takut ketinggalan informasi, dan malah bisa dibuat ribet karena tak memegang gawai.

Kenyataannya, sosok Selena Gomez mampu melakukannya. Seolah terbangun dari tidur, Selena rupanya sadar selama ini telah mengalami ketergantungan yang tak sehat pada perangkat digital. Ia memutuskan beraktivitas selama tiga bulan tanpa ponsel pintar dan gawai lainnya yang selama ini setia menemani sang diva muda ini. Detoks Digital, begitulah sebutannya.

Pelantun lagu hands to my self ini melakukan detoks digital tepatnya saat menjalani karantina depresi akibat penyakit lupus yang diderita. Selena, mulai menarik diri dari panggung tarik suara tepatnya pada awal September 2016. Saat itulah ia memulai detoks digitalnya.

Ia tak merasa gelisah karena takut tertinggal segala informasi akibat detoks digitalnya. Yang mengejutkan, Selena malah merasakan detoks digital membuat hidupnya lebih tenang. Kini, ia mengaku tak mengalami ketergantungan gadget lagi. Selena mulai membatasi menjawab panggilan yang masuk di ponselnya.

“Ini pengalaman yang paling menyegarkan, menenangkan, meremajakan, Sekarang saya jarang memegang ponsel,” kata Selena.

Apa yang sudah dilakukan Selena, bagi banyak orang lagi-lagi jadi sesuatu yang muskil. Orang di luar sana begitu sangat bergantung dengan ponsel pintarnya.
Bergantung Ponsel

Dalam dunia yang semakin terhubung dimana sumber berita, kegiatan belanja ritel, perbankan dan hiburan tersedia selama 24 jam dalam 7 hari selama setahun di perangkat digital seperti mobile, rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) memang merupakan fenomena yang masuk akal. Berdasarkan hasil penelitian yang dirilis Nielsen Mobile Shopping, Banking and Payment Report pada Oktober 2016 kemarin, sebanyak 53 persen konsumen global mengatakan merasa tidak tenang jika berada jauh dari perangkat mobile mereka. 

Penelitian yang dilakukan pada 1-23 Maret 2016 dengan sampel lebih dari 30.000 konsumen online di 63 negara di seluruh Asia-Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Utara ini menyatakan sebanyak 56 persen responden tidak dapat membayangkan hidup tanpa perangkat mobile. Sebanyak 70 persen menyatakan perangkat mobile membuat hidup mereka menjadi lebih baik. 

Dua pertiga responden global setuju bahwa interaksi tatap muka saat ini telah digantikan oleh interaksi melalui elektronik. Hampir setengah responden atau sebanyak 47 persen mengatakan bahwa mereka lebih suka berkomunikasi dengan teks daripada berbicara langsung.

Survei yang dilakukan Bank of America juga menunjukkan kecendrungan yang sama. Sebanyak 71 persen orang Amerika Serikat mengaku tidur bersama ponsel. Celakanya lagi, 90 persen generasi milenial menaruhnya di meja samping tempat tidur atau di bawah bantal mereka.

Untuk mengetahui secara persis bagaimana teknologi dapat mengubah tubuh dan perilaku masyarakat, Fast Company Unsworth, sebuah perusahaan yang mendesain perhiasan unik. Dengan memakai ini, si pemakai memungkinkan menjauhkan diri dari ponsel pintar. Mereka masih tetap dapat mengakses informasi penting yang membutuhkan perhatian segera. Pada sebuah percobaan, dari 35 orang yang terdiri dari CEO, pengusaha, dan beberapa relawan yang dipilih acak dikumpulkan dalam waktu seminggu tanpa adanya gadget.

Selain relawan, ada lima orang ahli syaraf yang disisipkan ke dalam kelompok tersebut. Mereka menyamar sebagai peserta untuk mengamati perubahan perilaku, ekspresi wajah, gerakan fisik, serta cara berhubungan satu sama lain. Hasilnya, setelah tiga hari tanpa alat digital, postur tubuh orang-orang dalam kelompok terlihat berubah. Mereka mulai beradaptasi dengan melihat ke mata lawan bicaranya, bukan ke bawah layar smartphone, seperti yang umum terjadi selama ini.

Kondisi ini kemudian menjadikan bagian depan tubuh mereka terbuka, bahunya terdorong ke belakang, berselaras dengan posisi kepala dan tulang belakang yang membaik. Kontak mata yang muncul juga menjadikan orang-orang dalam kelompok tersebut lebih bisa berempati satu sama lain.

Tanpa gawai, orang-orang ternyata melakukan interaksi satu sama lain dari hal sepele seperti menanyakan sesuatu yang ringan, padahal sebelumnya bisa diselesaikan oleh mesin pencari seperti Google. 

Para ahli saraf yang berada dalam kelompok itu menyimpulkan hasil penelitian lainnya, terungkap orang-orang tadi mengalami peningkatan daya ingat. Ini diyakini karena kelompok relawan ini bisa lebih hadir dalam percakapan, dampaknya otak mampu memproses dan menyimpan informasi baru dengan lebih mudah. Kebalikannya, dengan adanya teknologi, otak manusia tidak terbiasa memasukkan input informasi yang rinci.

Hasil penelitian ini yang mungkin akan mengubah hidup banyak orang adalah, para relawan mengaku memiliki kualitas tidur yang lebih baik. Para ahli saraf percaya selama ini cahaya dari layar perangkat digital dapat menekan hormon melatonin di dalam tubuh, sehingga membuat tubuh seseorang terus waspada. 

Belajar dari Selena Gomez dan para relawan tadi, barangkali Anda perlu menjajal detoks digital, untuk mengeluarkan efek "racun" gawai Anda. Coba seminggu saja. Berani? 

Gim Konsol yang Layak kamu Tunggu Tahun 2017

Gim Konsol yang Layak kamu Tunggu Tahun 2017

Gim The Last Guardian yang dirilis 6 Desember seakan menutup tahun ini dengan baik. Sepanjang 2016, telah banyak gim penting yang membuat tahun yang muram ini jadi sedikit lebih ceria. Banyak gim yang memang dirilis secara eksklusif dan hanya bisa dimainkan di konsol PS4 saja, seperti Uncharted IV dan Ratchet & Clank. Tren ini sepertinya takkan hanya berhenti pada 2016, tapi juga berlanjut tahun depan.

Sebelum memasuki 2017, baiknya kita menziarahi kembali beberapa rilisan Game PS4 yang penting dan mungkin kamu lewatkan. Game Spot, situs ulasan gim dunia, memberi apresiasi untuk beberapa gim terbaik seperti Dishonored 2, Overwatch, Titanfall 2, dan Uncharted 4: A Thief's End. Tiga dari dari empat gim menyajikan pengalaman orang pertama, sementara satunya ialah gim petualangan dengan sudut pandang orang ketiga. Overwatch sendiri digadang-gadang sebagai gim terbaik 2016.

Jika kamu kurang menyukai gim tembak-tembakan, ada gim lain seperti Dark Souls III, Final Fantasy XV,Hitman, Inside, Mafia III, dan Watch Dogs II. Secara personal Final Fantasy XV adalah gim open worldterbaik tahun ini. Jika kamu menyukai serial ini, maka gim tersebut jangan sampai kamu lewatkan. Mafia III memberikan gim anti-hero dengan sedikit nuansa yang mirip dengan Grand Theft Auto. SementaraWatch Dogs II sangat tepat bagi mereka yang menggemari serial Black Mirror yang dekat dengan teknologi digital dan media sosial.

Jika kamu menyukai gim seperti The Last Guardian, The Last of Us, dan Until Dawn, maka yang dibuat oleh Fumito Ueda akan menghibur kamu. Gim ini menekankan pentingnya membangun hubungan antara non-playable character dan pemain. Tokoh utama dalam gim ini mesti melatih Trico dan membangun kepercayaan dengannya sehingga bisa menembus level-level tertentu serta mengembangkan teknik-teknik baru. Pendekatan cerita ini tentu tidak baru, jika kamu ingat gim sepertiPokemon dan Digimon. Bedanya, kita bisa mengendalikan dan mengeksplorasi ruang.

Jika kamu setuju bahwa Uncharted 4 sebagai gim terbaik tahun ini, maka kamu perlu mencoba memainkan Rise of the Tomb Raider. Seri petualangan terbaru Lara Croft akan membawamu dalam petualangan ke pelbagai tempat eksotis di dunia, dengan cerita yang memukau, grafik yang indah, dan penjelajahan ke tanah yang jauh. Selain itu, kabar tentang cerita sempalan Uncharted: The Lost Legacyyang dirilis pada tahun depan bakal bikin kamu makin tak sabar.

Untuk penggemar gim tembak-menembak tradisional yang berbeda dengan Deus Ex, Titanfall 2 atauOverwatch, sepanjang 2016 kemarin ada Tom Clancy's The Division, Gears of War 4, Call of Duty: Infinite Warfare, dan tentu saja Battlefield 1. The Division dan Gear of War menggunakan pendekatan orang ketiga sementara Call of Duty dan Battlefield menggunakan orang pertama. Meski banyak kritikus menganggap Infinite Warfare sebagai gim yang buruk, saya pribadi melewatkan 20 menit pertama gim ini dengan gembira sebelum akhirnya memainkan Resident Evil (remake) dengan perasaan lebih gembira.

Tahun ini juga menjadi momen unjuk gigi bagi beberapa pengembang gim memamerkan cuplikan beberapa gim yang mungkin akan dirilis pada 2017. Sebut saja Death Stranding yang digarap Kojima Productions bersama Sony Interactive Entertainment, atau God of War yang juga digarap oleh Sony. Jangan lupakan Final Fantasy VII Remake yang pada video promosinya membuat banyak gamer, termasuk saya, menjadi histeris dan menangis bahagia. Tahun 2017 memang akan membuat banyak pemain gim, khususnya PS4, dibanjiri gim bermutu serta remake yang bikin kangen akan masa silam seperti Crash Bandicot, Final Fantasy XII, dan Shenmue.
Gim Konsol yang Layak kamu Tunggu Tahun 2017 
Pada 24 Januari mendatang, Capcom akan membawa penggemar gim horor untuk memainkan Resident Evil 7. Bagi fan gim yang juga berjudul Biohazard ini, rilisan seri ketujuh akan membawa ingatan mereka ke Zombie, Racoon City, dan tentu saja Umbrela. Resident Evil 7 sejauh ini belum menunjukkan indikasi adanya zombie atau virus, tetapi atmosfer horor, muram, gelap, dan perubahan gameplay menjadi sudut pandang orang pertama bikin seri ini sangat ditunggu. Resident Evil 7 bakal jadi pembuka untuk beberapa gim yang akan membawa kita menggarami nostalgia.

Ubisoft yang selama ini dikenal dengan seri Assassin's Creed kembali hadir dengan gim baru yang bocoran promosinya banyak dipuji bernama For Honor. Rencananya, gim ini akan dirilis pada 14 Februari 2017. Ada tiga kelompok pejuang yang bisa kamu pilih: Knight, Samurai, dan Vikings. Masing-masingcampaign akan membawa kamu ke jalan cerita menarik. Jika pacarmu penggemar gim slash & dashseperti Onimusha dan Romance of Three Kingdom XIII, For Honor mungkin jadi hadiah Valentine yang bisa bikin pasanganmu terharu bahagia. 

Horizon: Zero Dawn barangkali menjadi judul yang paling banyak diperbincangkan dan jadi gunjingan para penggemar gim sepanjang Electronic Enternainment Expo. Studio Guerrilla Games dan Sony Entertaiment bekerja sama untuk mewujudkan gim ini dengan pesona visual yang demikian indah. Gim yang menggabungkan elemen klasik perburuan dengan monster-monster berteknologi canggih melahirkan narasi indah yang patut ditunggu. Ulasan gameplay plus trailer asyik membuat banyak orang tak sabar mencoba permainan ini, dan kamu perlu menunggu pada 28 Februari 2017.

Persona 5 adalah gim yang secara personal saya tunggu kemunculannya. Dibuat oleh Atlus dan P Studio, seri terbaru Persona akan membuat kamu memainkan karakter siswa sekolah yang bisa berpindah di dunia alternatif, melawan monster, membangun karakter, dan berjejaring. Kamu juga dimanjakan visual indah dari anime yang akan muncul di tubuh permainan ini. Secara umum gameplay-nya bakal sama dengan seri-seri Persona sebelumnya. Kamu akan menjalani hidup sebagai seorang ksatria pembasmi monster (?) dan seorang murid yang bisa jatuh cinta lantas pacaran. Gim ini akan dirilis pada 4 April 2017. 

Jika kamu menyukai game pertarungan, maka game seperti Injustice 2, Tekken 7, dan Ultimate Marvel Vs Capcom 3 patut kamu tunggu. Sementara gim sekuel baru dari gim klasik seperti Kingdom Hearts HD 2.8 – Final Chapter Prologue dan Crash Bandicoot N. Sane Trilogy patut kamu nantikan. 

Tahun 2017 mungkin masih akan menjadi tahun yang menyenangkan bagi para penggila gim khususnya PS4. Mari kita berharap Hideo Kojima tetap hidup sembari gembira-sedih-menangis-bahagia seandainya Konami merilis ulang Suikoden atau Silent Hill.